Selasa, 18 September 2018

Perilaku Kelompok Dalam Organisasi

Pengertian Organisasi

Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut :
  • Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
  • James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
  • Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih..
  • Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.


Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat di sekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.

Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.



Pengertian Kelompok

Forsyth (1983) yang mendefinisikan kelompok sebagai 2 atau lebih individu yang saling mempengaruhi melauin interaksi sosial.

Kelompok adalah sebuah kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain yang membuat mereka saling tergantung dalam beberapa tingkatan signifikan (Cartwright dan Zander, 1968). Melalui kelompok, kita maksudkan orang yang saling berkomunikasi, sering kali ada rentang waktu, dan ada sejumlah orang yang cukup memadai sehingga setiap orang dapat berkomunikasi dengan semua yang lain, bukan melalui orang kedua melainkan dengan tatap muka (Homans, 1950). Mungkin ada dua atau lebih orang yang saking berinteraksi dalam pokok tersebut, sehingga setiap orang mempengaruhi dan dipengaruhi (Shaw, 1981). Pada sekumpulan individu yang dianggap sebagai sebuah kelompok, harus ada beberapa interaksi (Hare, 1976).

Kelompok ( group ) menurut Robbins (1996) mendefinisikan kelompok sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang saling bergabung untuk mencapai sasaran-sasaran tertentu. Sementara Gibson (1995) memandang kelompok dari empat kelompok prespektif, diantaranya :

1.     Dari sisi persepsi, kelompok dipandang sebagai kumpulan sejumlah orang yang  saling berinteraksi satu sama lain, dimana masing-masing anggota menerima kesan atau persepsi dari anggota lain.

2.     Dari sisi organisasi, kelompok adalah suatu sistem terorganisasi yang terdiri dari dua atau lebih individu yang saling berhubungan dengan sistem menunjukkan beberapa fungsi, mempunyai standar dari peran hubungan di antara anggota.

3.     Dari sisi motivasi, kelompok dipandang sebagai sekelompok individu yang keberadaannya sebagai suatu kumpulam yang menghargai individu.

4.     Dari sisi interaksi, menyatakan bahwa inti dari pengelompokkan adalah interaksi dalam bentuk interpedensi.

Dari beberapa pandangan tersebut, Gibson menyimpulkan bahwa yang disebut kelompok itu adalah kumpulan individu dimana perilaku dan atau kinerja satu anggota dipengaruhi oleh perilaku dan atau prestasi anggota yang lainnya.

Dipandang dari proses kemunculannya, kelompok dapat terbentuk karena tindakan manajerial dan karena adanya keinginan individu. Manager menciptakan kelompok kerja untuk melaksanakam pekerjaan dan tugas yang diberikan. Kelompok juga berfungsi dan berinteraksi dengan kelompok lain, masing-masing mengembangkan satu set karakteristik yang unik termasuk struktur, kepaduan peran, norma-norma dan proses. Kelompok juga menciptakan sendiri kultur mereka. Akibatnya, kelompok akan bekerja sama atau  bersaing dengan kelompok lain dan perrsaingan antara kelompok dapat memicu akan adanya konflik.



Pengertian Perilaku Kelompok dalam Organisasi

Perilaku kelompok dalam organisasi merupakan respon-respon anggota kelompok terhadap struktur sosial kelompok dan norma yang diadopsinya. Jadi ketika sebuah kelompok memasuki dunia organisasi maka karakteristik yang dibawanya adalah kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan kebutuhan, dan pengalaman masa lalunya. Dan organisasi juga mempunyai karakteristik yaitu keteraturan yang diwujudkan dalam susunan hirarki, pekerjaan-pekerjaan, tugas-tugas, wewenang, tanggung jawab, system penggajian, system pengendalian dan lain sebagainya. Jika karakteristik antara keloompok digabungkan dengan karakteristik organisasi maka akan terwujud perilaku kelompok dalam organisasi. jadi perilaku kelompok dalam organisasi adalah suatu fungsi dari interaksi antara sebuah kelompok dengan lingkungannya ( organisasi ).



Macam – Macam Kelompok dalam Organisasi

Kelompok-kelompok di dalam organisasi secara sengaja direncanakan atau sengaja dibiarkan terbentuk oleh manajemen selaku bagian dari struktur organisasi formal. Kendati begitu, kelompok juga kerap muncul melalui proses sosial dan organisasi informal. Organisasi informal muncul lewat interaksi antar pekerja di dalam organisasi dan perkembangan kelompok jika interaksi tersebut berhubungan dengan norma perilaku mereka sendiri, kendati tidak digariskan lewat struktur formal organisasi. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara kelompok formal dan informal.

1.     Kelompok Formal

Kelompok Formal ada dalam setiap organisasi. Kelompok formal adalah suatu suatu sub unit organisasi resmi yang didirikan dengan anggaran dasar organisasi atau dengan surat keputusan manajer. Kelompok kerja, panitia, departemen kecil. Semuanya merupakan contoh kelompok formal. Dalam kelompok formal, tujuan, peraturan – peraturan, keanggotaan dan pemiihan pemimpin biasanya ditentukan oleh organisasi ini.

 Kelompok ini dibangun selaku akibat dari pola struktur organisasi dan pembagian kerja yang ditandai untuk menegakkan tugas – tugas. Kebutuhan dan proses organisasi menimbulkan formulasi tipe – tipe kelompok yang berbeda – beda. Khususnya ada dua tipe kelompok formal, diantaranya :

-         Kelompok Komando (Command Group)
Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasi. Kelompok terdiri dari bawahan yang melapor langsung kepada seorang supervisor tertentu. Hubungan wewenang antara manajer departemen dengan supervisor, atau antara seorang perawat senior dan bawahannya, merupakan kelompok komado.

-         Kelompok tugas (Task Group)
Kelompok tugas terdiri dari para karyawan yang bekerja – sama untuk menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Misalnya, kegiatan para karyawan administrasi dalam perusahaan asuransi pada waktu orang mengajukan tuntutan kecelakaan, merupakan tugas yang harus dilaksanakan.

2.      Kelompok Informal

Kelompok informal juga dapat ditemukan dalam setiap organisasi. Kelompok- kelompok ini berkembang menyimpang dari rancangan organisasi yang ditetapkan secara resmi dan kelompok informal hidup sebagai subkultur yang relatif berkuasa atau dominan dalam organisasi. Kelompok informal biasanya terbentuk bila orang – orang bekerja saing berdekatan satu sama lain atau sering bergaul dalam pekerjaannya.

Kelompok informal adalah pengelompokan secara wajar dari orang – orang dalam situasi kerja untuk memenuhi kebutuhan sosial. Dengan perkataan lain, kelompok informal tidak muncul karena dibentuk dengan sengaja, tetapi muncul secara wajar. Orang mengenal dua macam kelompok informal khusus diantaranya:

-         Kelompok Kepentingan (Interest Group)
Orang yang mungkin tidak merupakan anggota dari kelompok komando atau kelompok tugas yang sama, mungkin bergabung untuk mencapai sesuatu sasaran bersama. Para karyawan yang bersama – sama bergabung dalam kelompok untuk membentuk front yang terpadu menghadapi manajemen untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak dan pelayan wanita yang mengumpulkan uang persen mereka merupakan contoh dari kelompok kepentingan. Perlu diketahui juga tujuan kelompok semacam itu tidak berhubungan dengan tujuan organisasi, tetapi tujuan itu bersifat khusus bagi tiap – tiap kelompok.

-         Kelompok Persahabatan (Friendship Group)
Banyak kelompok dibentuk karena para anggotanya mempunyai sesuatu kesamaan, misalnya usia, kepercayaan politis, atau latar belakang etnis. Kelompok persahabatan ini seringkali melebarkan interaksi dan komunikasi mereka sampai pada kegiatan diluar pekerjaan.

Jika Pola gabungan karyawan dicatat, maka akan segera menjadi jelas bahwa mereka termasuk dalam berbagai macam kelompok yang sering bersamaan. Maka diadakan perbedaan diantara dua klasifikassi kelompok yang luar:  kelompok formal dan informal. Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa kelompok formal ( kelompok komando dan kelompok tugas) dibentuk oleh organisasi formal dan merupakan alat untuk mencapai tujuan, sedangkan kelompok informal (kelompok kepentingan dan kelompok persahabatan) adalah penting untuk keperluan mereka sendiri ( artinya, mereka memenuhi kebutuhan pokok akan berkelompok).



Tahap – Tahap Pengembangan Kelompok

Kelompok biasanya berkembang melalui sebuah urutan terstandar dalam evolusi. Model lima tahap perkembangan kelompok ( five – stage group – development model ) menyebutkan karekteristik tahapan perkembangan kelompok dalam lima tahap yang berbeda, diantaranya:

1.       Tahap Pembentukan ( forming ), memiliki karakteristik besarnya ketidakpastian atas tujuan, struktur, dan kepimimpinan kelompok tersebut. Para anggotanya “ menguji kedalaman air ” untuk menentukan jenis – jenis perilaku yang dapat diterima. Tahap ini selesai ketika para anggotanya mulai menganggap diri mereka sebagai bagian dari kelompok.

2.       Tahap timbulnya konflik ( storming stage ) adalah satu dari konflik intrakelompok. Para anggotanya menerima keberadaan kelompok tersebut, tetapi terdapat penolakan terhadap batasan – batasan yang diterapkan kelompok terhadap setiap individu. Ketika tahap ini selesai, terdapat sebuah hierarki yang relatif jelas atas kepemimpinan dalam kelompok tersebut.

3.       Tahap normalisasi ( norming stage ) adalah tahap di mana hubungan yang dekat terbentuk dan kelompok tersebut menunjukkan kekohesifan. Dalam tahap ini terbentuk sebuah rasa yang kuat akan identitas kelompok dan persahabatan. Tahap ini selesai ketika struktur kelompok tersebut menjadi solid dan kelompok telah mengasimilasi serangkaian ekspektasiumum definisi yang benar atas perilaku organisasi.


4.       Tahap berkinerja ( performing ) adalah tahap di mana struktur telah sepehunya fungsional dan diterima. Energi kelompok telah berpindah dari saling mengenal dan memahami menjadi mengerjakan tugas yang ada.

5.  Tahap pembubaran ( adjourning stage ). Dalam tahap ini, kelompok tersebut mempersiapkan diri untuk pembubarannya. Kinerja tugas yang tinggi tidak lagi menjadi prioritas tertinggi kelompok. Sebagai gantinya, perhatian diarahkan untuk menyelesaikan aktivitas – aktivitas.



Alasan-Alasan Membentuk Kelompok

Robbins and Coulter (2004)
-         Keamanan
-         Status
-         Penghargaan diri
-         Pertalian
-         Kekuasaan
-         Pencapaian tujuan

Gibson (1996)
-         Kebutuhan keamanan
-         Kebutuhan harga diri
-         Kebutuhan sosial
-         Kedekatan dan daya tarik
-         Tujuan kelompok
-         ekonomi



Struktur

Struktur adalah pola hubungan yang menetap di antara anggota kelompok. Ada 3 istilah utama yang digunakan untuk menjelaskan struktur, yaitu peran, norma dan hubungan antar anggota.
-         Peran adalah perilaku-perilaku yang diharapkan dari individu yang menduduki posisi-posisi yang berbeda dalam kelompok.
-         Norma adalah aturan-aturan yang mengidentifikasi dan menggambarkan perilaku dengan tepat.
-         Hubungan antar anggota didasarkan pada banyak faktor seperti, wewenang, daya tarik, dan komunikasi.



Norma

Norma adalah Aturan (rule) dibuat dalam kelompok dan berkaitan dengan bagaimana individu-individu deharapkan untuk berpeilaku yang disebut norma. Berfungsi sebagai standar yang melaluinya orang-orang akan menyesuaikan perilaku mereka sendiri dan juga meningkatkan koordinasi mereka. Norma meliputi satu dari dua pola yang berbeda, yaitu preskriptif (perilaku-perilaku yang harus dilakukan) dan proskriptif (perilaku yang dihindari). Orang-orang yang melanggar norma dinilai mempunyai perilaku buruk dan membuat mereka mendapat sanksi dari anggota kelompok yang lain. Norma muncul dengan cepat, bahkan jika kelompok dimulai dengan sedikit orang atau jika tidak ada konsensus dan mungkin dengan banyak atau jika tidak ada konsensus dan mungkin dengan banyak variasi dalam perilaku.



Jaringan-jaringan komunikasi

Komunikasi mempunyai implikasi langsung terhadap pemecahan masalah kepemimpinan dan kepuasan anggota. Tampak bahwa efisiensi jaringan dalam istilah bentuk komunikasi yang berbeda dikaitkan dengan kejenuhan informasi. Kejenuhan dimana individu tidak dapat lagi memonitor dengan efisien, menyatukan atau mengirim pesan-pesan yang masuk dan keluar. Kejenuhan tentu saja terjadi pada titik sentral. Secara khusus dalam situasi kehiduoan nyata, penghuni posisi sentral melaporkan bahwa mereka dipuaskan dengan struktur kelompok; anggota-anggota sekitar lebih menekankan ketidakpuasan mereka.



Pertukaran interpersonal
Teori utama dalam pertukaran interpersonal adalah pertukaran sosial. Bahwa sebagai individu kita secara aktual menyeimbangkan biaya terhadap modal keanggotaan dari kelompok-kelompok tertentu. Orang dapat menjadi sumber kesenangan, dorongan atau semangat, persetujuan dan dukungan. Ada dua aspek lain yaitu, persetujuan sosial (social approval) yang merupakan alat positif dalam memberikan dukungan sosial untuk orang lain dengan menunjukkan kepada mereka bahwa Anda menyetujui mereka sebagai individu. Dan ada resiprositas yang : Saya menyukai orang yang menyukai saya dan tidak menyukai orang yang tidak menyukai saya. Persetujuan merupakan suatu hal yang meyakinkan anggota kelompok bahwa keyakinan mereka dapat diterima dan tepat dalam banyak cara.
Teori disonansi kognitif dari Festinger meyakinkan kita bahwa orang-orang yang tidak disukai yang juga memakai keyakinan kita akan mengarah kepada ketidakseimbangan kognitif.



Menentukan kelompok-kelompok

Tiga prinsip utama organisasi dari persepsi mengenai kelompok adalah :
1.     Kesamaan nasib (common fate), berarti tingkat dimana individu-individu dalam kelompok merasa mengalami hal yang sama atau interelasi hasil akhir.
2.     Kesamaan (similarity), berkaitan dengan tingkat dimana individu menampakkan perilaku yang sama atau mirip satu dengan yang lain dalam berbagai cara.
3.     Proksimitas (proximity), berkaitan dengan jarak yang renggang di antara individu di dalam kelompok



Membentuk kelompok

Faktor yang ada dalam kelompok :
1.     Kompetensi individu.
Orang yang intelijen dan task efficient dinilai sebagai anggota kelompok yang lebih diinginkan daripada mereka yang tidak kompeten. Orang yang sangat kompeten mungkin merasa ditolak karena tidak dapat berbuat salah. Orang dengan kompetensi tinggi yang menyatakan faliabilitas mereka melaui beberapa kesalahan kecil seringkali lebih disukai daripada anggota kelompok yang tidak pernah salah.

2.     Ketertarikan fisik.
Terutama dalam kelompok informal tampaknya dinilai sebagai aset utama dan komoditi yang dapat diperdagangkan selama interaksi sosial.
Orang-orang bergabung dalam kelompok bertujuan untuk mencapai tujuan yang tidak dapat mereka capai pada basis individual. Tujuan bersama merupakan salah satu faktor pemersatu utama dalam kelompok dan tujuan-tujuan bersama memotivasi anggota kelompok secara individual untuk berlaku dalam banyak cara untuk mensukseskan pencapaian tujuan kelompok.



Kelompok-kelompok utama

Bapak penelitian mengenai kelompok adalah Emile Durkheim, yang berusaha menjunjukkan bahwa masyarakat didasarkan pada solidaritas fundamental di antara orang-orang. Durkheim mendefinisikan kelompok utama sebagai sekelompok kecil orang yang ditandai dengan interaksi tatap muka, kesalingtergantungan dan identifikasi kelompok yang kuat. Kelompok-kelompok seperti itu meliputi keluarga, teman sebaya (peer group), kelompok kolega bisnis dan sebagainya.



Dinamika

Dinakima kelompok mengetahui bahwa kelompok-kelompok benar-benar berubah sepanjang waktu. Ada dua penjelasan untuk menjelaskan perubahan tersebut, yaitu :

1.     Teori fase pengulangan, yang menyatakan bahwa isu-isu tertentu cenderung mendominasi interaksi kelompok selama fase-fase pengembangan kelompok dan isu tersebut dapat terjadi lagi pada kehidupan kelompok tersebut. Jika kelompok ditujukan untuk menyeimbangkan antara task-oriented dan perilaku yang eksprektif secara emosional, maka kelompok tersebut mungkin berkisar di antara mencapai solidaritas tinggi kemudian beralih kepada fokus yang berpusatkan pada kerja.

2.     Teori tahap berturutan (sequential stage). Teori ini disusun oleh Tuckman (1965) yang mengembangkan konsep pembentukkan, penyerangan, penormaan dan pengerjaan. Kerangka kerja tersebut menyediakan perspektif yang melaluinya kita dapat memahami perkembanngan kelompok.



Penelitian industrial

Fokus penelitian diarahkan kepada organisasi sosial kelompok, norma-norma kelompok dan sikap serta motif para pekerja. Anggota kelompok yang berbeda ketika mereka percaya bahwa mereka sedang diamati oleh orang lain yang tertarik dengan perilaku mereka. Berdasarkan bidang-bidang dan situasi laboratorium barangkali hasil-hasil penelitian perlu dibatasi kemampuannya untuk digeneralisasi karena orang-orang mengetahui bahwa mereka sedang diteliti.



Group think

Sisi negatif dari group think adalah, sebagai konsep group think digunakan untuk menjelaskan dua hipotesis yang hampir berbeda. Karya asli Janis (1972) dalam pernyataannya dikaitkan dengan: “Kemerosotan, efisiensi mental, pengujian terhadap realitas dan penilaian moral adalah hasil dari tekanan in-group.” Keyakinan bahwa sinergi merupakan kekuatan positif yang meningkatkan pengambilan keputusan kelompok. Kekuatan kelompok dan pengambilan keputusannya ada pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada individu-individu yang membentuk kelompok, karena individu tersebut tidak dapat bekerja dengan aturan0aturan mereka sendiri (Belbin, 1981).



Sumber-sumber konflik

Diperlengkapi dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Belbin, dkk (1976) kita sekarang dapat mulai beralih kepada beberapa prediksi tentang apakah konflik potensial dapat muncul dalam kelompok. Pada hasil penelitian Belbin, dkk kita dapat menambahkan kualitas prediktif pada asumsi dasar Blake dan Mouton (1964, 1978), bahwa konflik adalah fungsi penting terhadap produksi hasil dan pentingnya perasaan orang dalam ketidaksepakatan. Salah satu aspek utama dalam sebuah kelompok adalah kecemasan yang dirasakan dalam kelompok itu sendiri.



Kesalahpahaman dan salah persepsi: teori atribusi

Pada umumnya keyakinan kausal lebih sering menentukan persepsi anggota kelompok terhadap motif dan tujuan orang lain. Teori atribusi menyatakan bahwa jika anggota kelompok menghubungkan ketidaksepakatan hanya untuk usaha kelompok untuk membuat keputusan yang tepat, maka ketidaksepakatan tersebut tidak menuju kepada konflik. Sebaliknya, peningkatan konflik terjadi ketika atribusi ketidaksepakatan didasarkan pada inkompetensi atau argumentatif. Persepsi secara keseluruhan, sebagaimana atribusi diperhatikan adalah persepsi lebih sering tidak dinyatakan dalam arah yang negatif, orang cenderung mengasumsikan hal yang paling buruk mengenai anggota kelompok yang lain.



Konflik dan nilai-nilai

Kita dapat mengasumsikan bahwa konflik merupakan hal yang buruk. Sebagian yang sedang kita cari adalah frekuensi episode konflik yang mempunyai konsekuensi positif, yaitu klarifikasi tujuan, peningkatan pemahaman terhadap perbedaan dan sebagainya.
Konflik antar kelompok muncul jika tindakan atau keyakinan-keyakinan dalam kelompok tidak sesuai atau ditolak oleh orang lain dalam kelompok. Kita dapat mengidentifikasi lima tahap dalam proses tersebut, yaitu :

1.     Ketidaksepakatan. Pengujian sifat ketidaksepakatan dan pembuatan keyakinan merupakan isu yang cukup penting untuk diresolusi, karena anggota kelompok akan cenderung mengkonfrontasi masalah melalui diskusi.

2.     Konfrontasi. Selama konfrontasi orang menjadi lebih intens dalam mengikatkan diri kepada cara pandang respektif mereka dan mungkin hal itu nantinya membawa kepada pembentukkan koalisi dalam kelompok.

3.     Perluasan. Terjadinya perluasan konflik dan ditandai dengan meluasnya konflik melalui kesalahmengertian, tidak percaya, frustasi, permusuhan dan sebagainya.

4.     Penurunan. Pada waktunya, mulai terjadi penurunan konflik sebagai usaha kelompok untuk mencapai kesepakatan mengenai berbagai isu. Jika kelompok-kelompok tidak dapat memecahkan masalah sendiri maka diperlukan intervensi pihak ketiga.

5.     Resolusi. Jika semua hal di atas berhasil maka kelompok akan mencapai resolusi konflik. Hasilnya secara berurutan faktor-faktor tuan rumahbekerja untuk meningkatkan konflik di antara anggota dan itu meliputi hal-hal seperti saling ketergantungan, karakteristik pribadi, pengaruh-pengaruh strategi yang diadopsi, kelekatan kesalah-mengertian dan salah persepsi dan sebagainya.
Dalam beberapa hal bagian resolusi dari siklus konflik merupakan aspek krusial karena hal itu merupakan kemampuan belajar sepanjang menyangkut kelompok sebagai totalitas.



Konfrontasi konflik

Forsyth (1983) mengatakan tindakan-tindakan dan atau keyakinan satu atau lebih anggota kelompok tidak sesuai dengan satu atau lebih anggota kelompok lain. Hasilnya diskusi menjadi lebih kepada isu-isu yang sesungguhnya.
Pada tahap aawal konfrontasi apa yang cenderung terjadi adalah ada intensifikasi komitmen oleh setiap bagian kepada pandangan mereka sendiri.



Peningkatan konflik (eskalasi)

Pada titik ini mungkin terjadi spiral kecil dalam kelompok, yaitu konflik membawa kepada konflik yang lebih berat yang bahkan konflik-konflik yang lebih berat lagi. Pada tahap ini kesatuan kelompok dihancurkan karena pertukaran menjadi permusuhan yang lebih meningkat dan emosional. Konflik itu sendiri sering diisi dengan ketridakpercayaan dan frustasi pada sebagian anggota. Jika norma dalam kelompok adalah persaingan, maka hal itu akan menjadi cara bertindak yang diterapkan oleh setiap anggota baru. Sebaliknya, jika normanya adalah kooperatif, maka norma itu akan menguasai semua anggota.



Penurunan konflik (de-eskalasi)

Penurunan konflik cenderung terjadi jika orang menyadari bahwa debat yang berkepanjangan telah membuang waktu dan energi. Penurunan konflik kemudian akan melibatkan partisipasi dalam sebuah negosiasi, yang nantinya dapat membawa kepada dibangunnya kepercayaan dalam kelompok.



Resolusi

Konflik dapat diselesaikan dalam berbagai cara. Pertama, mungkin itu semata-mata demi kesatuan kelompok atau dalam kaitannya dengan penghematan waktu, salah satu partisipan menarik diri dari arena konflik. Kedua, mungkin pemimpin kelompok atau figur otoritas yang lain mendesak untuk berada di sisi lain dalam isu konflik dan kemudian memberikan keputusan.



Konsensus pengambilan keputusan

Dalam kasus ini, kompromi dicapai oleh pihak yang mengalah yang mendapati bahwa mereka merasa lebih baik, sampai akhirnya dicapai kesepakatan. Konflik-konflik dapat diatasi melalui pembubaran kelompok itu sendiri. Hal itu terjadi di bawah tekanan ekstrim yang terjadi akibat konflik yang tampaknya tidak dapat dipecahkan. Konflik seperti ini kadang-kadang dapat dilihat dalam kelompok-kelompok dengan tingkat yang sangat senior dalam organisasi.



Peran

Kesamaan perilaku, standar-standar yang menetap, relasi-relasi wewenang, hubungan-hubungan yang menarik, dan komunikasi semua bagian, secara total adalah struktur. Sebagaimana kelompok mulai terbentuk, demikian juga peran mulai terbentuk di dalamnya. Proses tersebut dinamakan diferensiasi peran. Meskipun sebagian diferensiasi peran didasarkan pada tugas dan proses-proses yang dilakukan oleh kelompok, ada beberapa peran yang merupakan peran umum bagi semua kelompok. Peran kepemimpinan merupakan salah satu yang jelas, bahkan juka dibedakan menjadi dua aspek yang sangat berbeda, yaitu tugas dan proses.



Konflik peran
Ada dua bentuk konflik peran. Pertama, konflik antar peran dimana orang memainkan dua atau lebih peran. Masalah terjadi jika perilaku yang diasosiasikan dalam salah satu peran tersebut tidak sesuai dengan yang diasosiasikan oleh peran yang lain. Memberikan peran pada satu orang yang sama berarti ada peluang dimana peran manajer tidak sesuai dengan peran istri, demikian juga ada peluang dimana peran istri tidak sesuai dengan peran ibu.
Bentuk kedua dari konflik adalah intra peran yang merupakan hasil dari permintaan yang bertentangan dalam suatu peran tunggal. Permintaan-permintaan ditempatkan pertama kali oleh individu yang melakukan peran dan atau oleh anggota lain dari kelompoknya.



Pengaruh Sosial dalam Kelompok

Kelompok dapat mempengaruhi perilaku anggotanya secara langsung dengan cara penekanan sosial. Perilaku penyesuaian pada norma – norma kelompok dikenal sebagai kepatuhan.
Kelompok juga dapat mempengaruhi sikap dan keyakinan seseorang. Bila anggota kelompok seringali berkumpul dan mereka bergantung satu sama lain, maka mereka cenderung mengembangkan sikap dan keyakinan yang sama. Lebih – lebih bila seseorang merasa memiliki kelompok serta mengidentifikasikan diri dengannya cenderung menerima nilai – nilai serta norma – norma kelompok acuan tersebut. Dengan mempengaruhi sikap dan keyakinan anggotanya, kelompok secara tidak langsung mempengaruhi perilaku anggotanya karena perilaku seseorang cenderung konsisten dengan sikapnya jika tidak terdapat penekanan sosial yang kuat untuk bertindak lain. Jadi, kelompok mempunyai dua sumber pengaruh, yaitu pengaruh langsung dari penekanan sosial dan pengaruh tidak langsung dengan bujukan sikap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...